28 Mei 2010

Masa Mudaku, Kemanakah Engkau Akan Ku Habiskan?

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Semoga sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Nabi akhir zaman, Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Masa muda adalah masa ketika anggota tubuh seseorang masih berfungsi sebagaimana mestinya, di saat badan belum bungkuk, semangat masih membara, dan keinginan masih kuat. Akan tetapi, ke manakah masa mudamu ‘kan kau habiskan? Apakah untuk bermaksiat, perkara yang tidak berguna, atau yang lainnya?

Islam adalah agama yang sempurna sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku sempurnakan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu”. (QS : Al Maidah [5] : 3).

Kesempurnaan ini mencakup sendi aqidah, syari’at (yang berupa hukum-hukum), sumbernya, dan apa yang ditunjukkan oleh Al Kitab dan As Sunnah[1]. Nah, salah satu kesempurnaan Islam adalah diaturnya bagaimana seharusnya masa muda kita habiskan agar kita mendapatkan kenikmatan yang tiada taranya yaitu surganya Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

« سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ……. »

“Ada tujuh golongan orang yang Allah berikan naungan pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya, [pertama] penguasa yang adil[2], [kedua] pemuda yang tumbuh berkembang dalam peribadatan kepada Robbnya….”[3].

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan bahwa “tujuh golongan yang dimaksudkan dalam hadits ini bukanlah merupakan pembatasan, melainkan masih ada golongan lain yang Allah berikan pada mereka naungan (pada hari kiamat, pen.). Ibnu Hajar Al Asqolani Asy Syafi’i Rohimahullah telah mengumpulkan kelompok lain yang juga mendapatkan naungan Allah (pada hari kiamat, pen.) dan Beliau Rohimahullah menambahkan sehingga menjadi sebanyak 20 kelompok orang”[4].

An Nawawi Rohimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan naungan Allah dalam hadits ini adalah naungan Arsy Allah, dan yang dimaksud dengan hari kiamat adalah hari di saat seluruh manusia akan berdiri menghadap Robbul ‘Alamin, ketika didekatkan matahari sehingga keadaan pada saat itu sangat panas namun mereka diberikan naungan Arsy yang pada saat itu tidak ada lagi naungan kecuali dengannya. Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan naungan Allah pada hadits ini adalah naungan surga yang berupa kenikmatan dan keadaan di dalamnya, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla :

وَنُدْخِلُهُمْ ظِلاًّ ظَلِيلاً

“Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh (naungan) lagi nyaman[5]”.

(QS : An Nisaa’ [4] :57).[6]

Yang jelas kedua penjelasan di atas* menunjukkan betapa besar balasan bagi pemuda yang menghabiskan masa muda dalam rangka beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Demikian juga, lihatlah saudaraku, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan kepada kita tentang ashabul kahfi. Allah kabarkan kepada kita bahwa mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Robb mereka, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla :

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى. وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka[7], dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia”.

(QS : Al Kahfi [18] :13-14).

Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Mereka adalah pemuda (ghulam) yang ada pada diri mereka iman yang kuat dan Allah tambahkan pada mereka petunjuk berupa bashiroh (ilmu) tentang agama. Allah menetapkan hati dan diri mereka dalam perkara agama mereka, yaitu iman dan kesabaran sehingga ketika mereka tampil di depan Raja Difyanus yang kafir, mereka mengatakan, “Robb kami adalah Robb pemilik langit dan bumi kami tidak akan beribadah kepada selainNya”[8].

Maka, lihatlah wahai para pemuda Islam! Apa yang mereka dapatkan dari waktu muda yang mereka habiskan dalam ketaatan kepada Allah? Renungkanlah! Dari mana mereka bisa mendapatkan keberanian untuk mengatakan bahwa ”Robb kami adalah Robb yang memiliki langit dan bumi, kami tidak akan beribadah kepada selainNya” di depan raja yang memerintahkan mereka untuk menyembah/sujud kepada berhala[9]. Sungguh, ini adalah suatu keberanian yang luar biasa yang tidak akan didapatkan cuma-cuma tanpa usaha, melainkan balasan dari Allah ‘Azza wa Jalla terhadap apa yang ada pada diri dan hati mereka, Aljaza’u min Jinsil ‘Amal (balasan suatu perbuatan semisal dengan ‘amal). Maka, marilah kita wahai pemuda Islam, bersemangatlah menghabiskan masa muda kita dalam keta’atan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penutup

Sebagai penutup, kami sampaikan ucapan salah seorang ahli tafsir yang karyanya tersebar luas, Ibnu Katsir Asy Syafi’i Rohimahullah ketika Beliau menafsirkan ayat Allah ‘Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.

(QS : Ali ‘Imron [3] :102).

Beliau mengatakan,

أَنَّهُ مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ، وَمَنْ مَاتَ عَلَى شَيْءٍ بُعِثَ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya barangsiapa menyibukkan diri/hidup bersama sesuatu, ia akan diwafatkan dalam melakukan hal tersebut. Barangsiapa diwafatkan pada sesuatu, ia akan dibangkitkan atasnya”.[10]

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi penulis sebagai tambahan amal dan bermanfaat bagi pembaca sebagai tambahan ilmu sehingga dengannya bisa menambah amal. Amiin.

اللهم انفعني بما علمتني وعلمني ما ينفعني وزدني علما

Al Faaqir ilaa Maghfiroti Robbihi,

Aditya Budiman.
[1] Lihat Syarh Fadhlil Islam oleh Syaikh Sholeh Alu Syaikh hal. 14, cetakan Dar Ibnul Jauzi, Kairo, Mesir.

[2] Adapun pembahasan tentang penguasa yang adil tidak dapat kami hadirkan di sini karena yang ingin kami tekankan adalah masalah yang ke dua yaitu pemuda yang tumbuh berkembang dalam peribadatan kepada Robbnya.

[3] Potongan hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhori no. 660, Muslim no. 1031.

[4] Lihat Syarh Riyadhush Sholihin oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 453/II cetakan Darul Aqidah, Kairo, Mesir.

[5] Yaitu naungan surga. [lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalalain Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi dengan ta’liq dari Syaikh Shofiyurrohman Al Mubarokfuri hafidzahullah hal. 96 cet. Darus Salam, Riyadh, KSA]

[6] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi Rohimahullah hal. 122/VII cetakan Darul Ma’rifah, Beirut dengan tahqiq dari Syaikh Kholil Ma’mun Syihaa.

* Catatan editor: Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama (sebagaimana yang disampaikan guru kami, Ustadz Aris Munandar, ketika memuraja’ah tulisan ini). Yang menguatkan hal ini adalah penjelasan Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam kitab beliau, بهجة الناظرين شرح رياض الصالحين /Bahjatun Nadzirin Syarh Riyadus-Shalihin/, penerbit دار ابن الجوزي, jilid I, halaman 445. Beliau (Syaikh Salim) menyampaikan bahwa makna يظلهم الله في ظله adalah naungan ‘Arsy Allah, sebagaimana dalam hadits Salman dari riwayat Sa’id bin Manshur, dengan sanad yang dinyatakan Hasan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar. Adapun penyandaran kepada Allah dalam hadits tersebut adalah penyandaran untuk pemuliaan.

[7] Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan bahwa mereka adalah pemuda yang pada diri mereka kekuatan azzam, kekuatan badan dan kekuatan iman. [lihat Tafsir Surat Al Kahfi oleh Syaikh Mumammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 26, cetakan Dar Ibnil Jauzi, Riyadh, KSA]

[8]Lihat Tafsir Ibnu Abbas hal. 294 Asy Syamilah, kami sarikan dengan penyesuaian kata.

[9] [lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalalain Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi dengan ta’liq dari Syaikh Shofiyurrohman Al Mubarokfuri hafidzahullah hal. 305 cet. Darus Salam, Riyadh, KSA]

[10] Lihat Shohih Tafsir Ibnu Kastir oleh Syaikh Musthofa Al Adawi hafidzahullah hal. 374/I Cetakan Dar Ibni Rojab, Kairo Mesir.

Abu Hanyf Kafaby April 21 at 1:29pm
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...